Safetyclopedia

Safetyclopedia

Safetyclopedia

28 November 2025

Sistem Evakuasi Efektif Kebakaran di Area Industri

Membangun Sistem Evakuasi Efektif dalam Menghadapi Kebakaran di Area Industri

Kebakaran di lingkungan industri adalah salah satu ancaman paling serius yang bisa terjadi kapan saja dan tanpa peringatan. Selain menyebabkan kerugian besar secara materi, kebakaran juga dapat mengancam nyawa pekerja, merusak lingkungan, serta menghentikan proses produksi dalam waktu lama.

Di tengah kompleksitas dunia industri modern yang melibatkan bahan kimia berbahaya, mesin bertegangan tinggi, serta proses produksi yang padat, perusahaan perlu memiliki sistem pencegahan dan penanganan kebakaran yang terencana dengan baik. Hal ini mencakup pemahaman terhadap penyebab kebakaran, prosedur evakuasi, jalur dan titik kumpul yang aman, peran Emergency Response Team (ERT), hingga pelatihan rutin bagi seluruh pekerja.

  1. Jenis dan Penyebab Kebakaran di Industri

Kebakaran industri dapat dibedakan berdasarkan jenis bahan yang terbakar, seperti dijelaskan dalam standar NFPA (2023):

  • Kelas A: Terjadi pada bahan padat seperti kayu, kertas, dan kain.

  • Kelas B: Disebabkan oleh cairan mudah terbakar seperti bensin, alkohol, atau cat.

  • Kelas C: Terjadi akibat korsleting listrik.

  • Kelas D: Melibatkan logam reaktif seperti magnesium atau natrium.

  • Kelas K: Umumnya terjadi di dapur industri akibat minyak goreng atau lemak.

Penyebab kebakaran tidak hanya berasal dari peralatan, tetapi juga dari kelalaian manusia. Misalnya, instalasi listrik yang tidak terawat, penyimpanan bahan kimia tanpa standar, atau ketidakpatuhan terhadap prosedur K3. Selain itu, faktor lingkungan seperti suhu tinggi, ventilasi buruk, dan penumpukan debu mudah terbakar dapat memperbesar risiko kebakaran (Siregar & Rahman, 2022).

Karena itu, perusahaan perlu rutin melakukan pemeriksaan instalasi listrik, menyediakan APAR yang sesuai jenis kebakaran, serta melakukan audit keselamatan berkala untuk mencegah terjadinya insiden (OSHA, 2021).

  1. Prosedur Evakuasi Darurat

Ketika kebakaran terjadi, prosedur evakuasi darurat menjadi panduan utama untuk memastikan keselamatan semua pekerja. Langkah pertama adalah mengaktifkan alarm atau sistem peringatan bahaya, lalu semua kegiatan produksi segera dihentikan. Jika memungkinkan, sumber energi utama seperti listrik dan gas dapat dimatikan.

Setelah itu, seluruh pekerja harus segera menuju jalur evakuasi yang telah ditentukan dan diarahkan oleh petugas keamanan atau anggota ERT. Penting untuk tetap tenang, tidak berlari, dan mengikuti instruksi agar proses evakuasi berjalan lancar.

Agar evakuasi berjalan efektif, perusahaan harus memastikan bahwa rambu evakuasi, penerangan darurat, serta pintu keluar selalu dalam kondisi baik dan tidak terhalang oleh peralatan produksi. Disiplin dan latihan rutin akan membantu pekerja terbiasa dengan prosedur ini (Kemnaker RI, 2020).

  1. Rencana Jalur Evakuasi dan Titik Kumpul

Jalur evakuasi adalah rute aman yang digunakan pekerja untuk keluar dari area berbahaya menuju tempat yang lebih aman. Jalur ini harus lebar, bebas hambatan, dan dilengkapi tanda arah yang mudah terlihat bahkan dalam kondisi asap tebal atau listrik padam.

Selain jalur, perusahaan juga harus menetapkan titik kumpul (assembly point), yaitu area aman di luar gedung tempat seluruh pekerja berkumpul setelah evakuasi. Di titik ini, petugas akan melakukan pendataan untuk memastikan tidak ada pekerja yang tertinggal di dalam area berbahaya.

Perusahaan perlu mengevaluasi jalur dan titik kumpul secara berkala, terutama jika ada perubahan tata letak atau perluasan area kerja (BPBD, 2021). Dengan perencanaan yang matang, proses evakuasi dapat berlangsung lebih cepat dan aman.

  1. Peran Tim Tanggap Darurat (Emergency Response Team – ERT)

ERT (Emergency Response Team) adalah tim khusus yang dibentuk perusahaan untuk menangani keadaan darurat seperti kebakaran, ledakan, atau kecelakaan kerja.

Tugas utama ERT meliputi:

  • Memberikan pertolongan pertama kepada korban,

  • Memadamkan api kecil menggunakan APAR sebelum api membesar,

  • Mengatur jalannya evakuasi, dan

  • Berkoordinasi dengan pihak luar, seperti Dinas Pemadam Kebakaran atau layanan medis (BNPB, 2022).

Keberhasilan ERT sangat bergantung pada kesiapan dan pelatihan rutin. Anggota ERT perlu memahami cara menggunakan alat pemadam, teknik penyelamatan korban, dan komunikasi dalam situasi darurat. Selain itu, mereka juga berperan penting dalam mengedukasi rekan kerja tentang pentingnya keselamatan di lingkungan industri.

Tim yang tanggap dan terlatih dapat mengurangi kerugian dan menyelamatkan nyawa sebelum bantuan dari luar datang.

  1. Pelatihan dan Simulasi Evakuasi

Pelatihan dan simulasi evakuasi merupakan cara terbaik untuk melatih kesiapsiagaan pekerja menghadapi situasi darurat. Kegiatan ini biasanya dilakukan dua kali dalam setahun dengan melibatkan seluruh departemen.

Simulasi dibuat semirip mungkin dengan kondisi nyata, misalnya alarm dibunyikan, rute evakuasi digunakan, dan semua pekerja diarahkan menuju titik kumpul. Dari latihan ini, perusahaan dapat menilai apakah jalur evakuasi, sistem alarm, dan koordinasi tim sudah berjalan baik atau masih perlu diperbaiki (ILO, 2019).

Setelah simulasi, dilakukan evaluasi pasca-latihan (post-drill evaluation) untuk melihat apa yang sudah berhasil dan apa yang masih perlu ditingkatkan. Latihan rutin ini akan menumbuhkan budaya siap siaga, di mana setiap pekerja tahu apa yang harus dilakukan ketika darurat benar-benar terjadi.

Kebakaran di area industri memang tidak bisa dihindari sepenuhnya, namun dampaknya bisa dikendalikan dengan perencanaan dan pelatihan yang baik.
Mulai dari memahami jenis kebakaran, mengetahui jalur evakuasi dan titik kumpul, hingga membentuk tim tanggap darurat yang sigap, semuanya berperan penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman.

Dengan dukungan manajemen dan kerja sama seluruh karyawan, budaya keselamatan dan kesiapsiagaan dapat tumbuh kuat di tempat kerja. Upaya ini bukan hanya untuk memenuhi aturan, tetapi juga demi melindungi keselamatan manusia dan keberlangsungan operasional perusahaan.

Referensi 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). (2021). Panduan Penyelenggaraan Evakuasi Darurat di Lingkungan Kerja. Jakarta: BPBD RI.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). (2022). Pedoman Tim Tanggap Darurat Perusahaan. Jakarta: BNPB.

International Labour Organization (ILO). (2019). Guidelines on Occupational Safety and Health Management Systems (ILO-OSH 2001). Geneva: ILO.

Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia. (2020). Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja. Jakarta: Kemnaker RI.

National Fire Protection Association (NFPA). (2023). NFPA 10: Standard for Portable Fire Extinguishers. Quincy, MA: NFPA.

Occupational Safety and Health Administration (OSHA). (2021). Fire Safety in the Workplace. Washington, DC: U.S. Department of Labor.

Siregar, M., & Rahman, A. (2022). Analisis Faktor Penyebab Kebakaran di Lingkungan Industri Kimia. Jurnal Keselamatan Kerja dan Lingkungan Industri, 7(2), 45–53.




Penerapan Process Safety Management (PSM)

Penerapan Process Safety Management (PSM)

Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Pertambangan

Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Pertambangan

Keselamatan di Ruang Terbatas

Keselamatan di Ruang Terbatas

Penerapan Process Safety Management (PSM)

Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Pertambangan

Keselamatan di Ruang Terbatas

PAK Akibat Pajanan Bising di Pabrik Manufaktur

© 2025 Kabinet Proxima HIMATEKK3.

© 2025 Kabinet Proxima HIMATEKK3.

© 2025 Kabinet Proxima HIMATEKK3.

Create a free website with Framer, the website builder loved by startups, designers and agencies.