25 April 2025
Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Pertambangan
Membangun Budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Pertambangan
Halo Sobat Safeclo!
Tahu nggak sih apa itu industri pertambangan?
Industri pertambangan adalah industri yang mengolah sumber daya alam berupa bahan tambang untuk menghasilkan produk akhir. Pertambangan merupakan salah satu sektor industri yang memiliki peran penting dalam perekonomian global sehingga industri pertambangan menjadi pondasi penting perekonomian banyak negara termasuk Indonesia. Dibalik semua itu, industri pertambangan termasuk kedalam sektor industri dengan tingkat risiko tinggi sehingga keselamatan dan kesehatan kerja menjadi prioritas utama. Meskipun sudah ada regulasi yang diterapkan, nyatanya angka kecelakaan kerja di industri ini masih cukup tinggi. Oleh karena itu, penerapan Budaya K3 menjadi salah satu kunci utama dalam membangun keselamatan dan kesehatan kerja di pertambangan. Seberapa penting sih Budaya K3 dan apa saja tantangan dan faktor yang mempengaruhinya? Let’s learn more!
Tantangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di pertambangan
Menurut Suherry & Susilawati (2023), terdapat banyak tantangan yang menjadi faktor penghambat penerapan K3 secara optimal di industri pertambangan. Lantas, apa saja ya tantangannya? Yuk kita bahas lebih lanjut!
Komitmen Manajemen yang Masih Lemah
Keselamatan dan kesehatan kerja seharusnya menjadi prioritas perusahaan dan bukan formalitas. Akan tetapi, masih banyak perusahaan tambang yang tidak berkomitmen dalam penerapan K3 karena lebih fokus pada target dan keuntungan produksi. Akibatnya, banyak prosedur keselamatan yang diabaikan sehingga berujung pada meningkatnya risiko kecelakaan kerja.Anggaran Pelatihan yang Terbatas
Salah satu faktor penting pencegahan kecelakaan kerja adalah pelatihan K3 yang berkualitas. Namun, nyatanya banyak perusahaan tambang masih enggan mengalokasikan dana yang cukup untuk pelatihan K3 sehingga mengakibatkan banyak pekerja tidak mendapatkan edukasi yang memadai terkait prosedur keselamatan.Rendahnya Kesadaran akan Pentingnya K3
Bukan hanya perusahaan, pekerja di area pertambangan seringkali kurang menyadari akan pentingnya K3. Masih banyak pekerja yang mengabaikan prosedur K3 karena merasa telah memiliki pengalaman yang cukup untuk menghindarkan dirinya dari bahaya. Selain itu, banyak juga pekerja yang enggan melaporkan cedera. Menurut Sundri (2023), banyak pekerja yang enggan melaporkan cedera ringan karena takut kehilangan pekerjaan atau bahkan dipandang lemah oleh rekan kerja.Tantangan Geografis dan Kompleksitas Operasional
Area pertambangan seringkali berada di daerah terpencil dengan akses yang sulit. Kondisi yang seperti ini, mengakibatkan penegakan standar K3 menjadi lebih rumit. Kondisi geografis yang ekstrim seperti medan berbatu dan gas beracun juga menambah tantangan dalam penerapan K3 di industri pertambangan.
Faktor yang mempengaruhi budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Faktor-faktor yang mempengaruhi budaya keselamatan dalam industri pertambangan mencakup kepatuhan dan perilaku pekerja, komitmen dari manajemen, pengetahuan serta kompetensi karyawan, dan komunikasi yang efektif. Berbagai kajian literatur dan artikel terkait dapat menjadi sumber informasi mengenai hal ini. Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi budaya keselamatan dalam industri pertambangan:
Kepatuhan Pekerja
Tingkat kepatuhan pekerja terhadap prosedur keselamatan memiliki dampak besar pada budaya keselamatan di tempat kerja. Pekerja yang disiplin dalam mematuhi aturan dapat mengurangi risiko terjadinya kecelakaan.Perilaku Pekerja
Perilaku individu saat melaksanakan tugas sehari-hari berkontribusi pada keselamatan. Sikap proaktif dan kesadaran akan risiko dapat meningkatkan keselamatan di lingkungan kerja.Komitmen Manajemen
Dukungan dan komitmen dari pihak manajemen sangat krusial dalam membangun budaya keselamatan. Manajemen yang menunjukkan perhatian terhadap keselamatan akan mendorong karyawan untuk lebih fokus pada aspek keselamatan.Keterlibatan Karyawan
Partisipasi karyawan dalam program keselamatan dan pelatihan dapat meningkatkan kesadaran serta pengetahuan mereka mengenai praktik keselamatan yang baik.Pengetahuan dan Kompetensi
Karyawan yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup dalam keselamatan kerja cenderung lebih mampu mengenali dan menangani potensi bahaya.Komunikasi yang Efektif
Komunikasi yang baik antara manajemen dan pekerja mengenai isu-isu keselamatan dapat berkontribusi pada terciptanya lingkungan kerja yang lebih aman.
Peran manajemen dan pekerja dalam membangun budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Sobat Safeclo tahu nggak sih Manajemen K3 itu apa? yuk kita simak penjelasannya berikut ini. Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan sistem yang mengelola Keselamatan dan Kesehatan Kerja secara efektif dan efisien, Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dan sangat penting dari keseluruhan manajemen organisasi yang mencakup prosedur dan sumber daya yang diperlukan untuk struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, pengembangan kinerja, implementasi, evaluasi, dan manajemen risiko (Rahmi et al., 2024) dan (Agustina et al., 2023).
Manajemen sendiri memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di tempat kerja. Berikut ini adalah beberapa peran penting manajemen dan pekerja keselamatan dan kesehatan kerja (K3):
Membuat kebijakan K3
Manajemen harus membuat kebijakan K3 yang jelas dan terstruktur. Kebijakan ini harus mencakup rencana darurat, penggunaan alat pelindung diri (APD), dan prosedur keselamatan yang harus diikuti oleh seluruh karyawan.Menyediakan sarana dan prasarana yang aman
Manajemen harus memastikan bahwa seluruh fasilitas dan peralatan yang digunakan di tempat kerja aman dan sesuai dengan standar K3 yang berlaku.Memberikan pelatihan K3
Manajemen harus memberikan pelatihan K3 yang memadai dan berkala kepada seluruh karyawan. Pelatihan ini harus mencakup tindakan pencegahan, tindakan darurat, dan cara menggunakan alat pelindung diri dengan benar.Mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah K3
Manajemen harus aktif mengidentifikasi masalah K3 yang mungkin terjadi di tempat kerja dan mengambil tindakan untuk menyelesaikan masalah tersebut secepat mungkin.Melibatkan karyawan
Manajemen harus melibatkan karyawan dalam program K3 dengan mendengarkan masukan dan saran mereka. Karyawan harus merasa bahwa pendapat mereka dihargai dan bahwa manajemen serius dalam menjaga kesehatan dan keselamatan mereka.Menjaga komunikasi yang terbuka.
Manajemen harus menjaga komunikasi yang terbuka dan transparan dengan karyawan mengenai masalah K3. Hal ini akan memungkinkan karyawan untuk melaporkan masalah atau kekhawatiran mereka tanpa takut akan konsekuensi yang merugikan.
Penerapan Behavior-Based Safety (BBS)
Nah Sobat Safeclo, pasti ada yang belum tahu kan apa itu BBS, Behavior-Based Safety (BBS) merupakan suatu pendekatan dalam manajemen keselamatan yang menekankan pada perilaku individu sebagai faktor utama dalam mencegah kecelakaan dan cedera di lingkungan kerja. Berbeda dengan metode tradisional yang lebih menitikberatkan pada kondisi fisik dan kepatuhan terhadap regulasi, BBS berfokus pada identifikasi dan perubahan perilaku yang berisiko untuk meningkatkan keselamatan.
Dalam industri pertambangan di Indonesia, pendekatan ini menekankan pada pengenalan dan perubahan perilaku berisiko guna meningkatkan keselamatan kerja. Proses ini mencakup pengamatan terhadap perilaku pekerja, pemberian umpan balik, serta melibatkan karyawan dalam program pelatihan untuk membangun budaya keselamatan yang lebih baik.
Implementasi Behavior-Based Safety (BBS) dalam industri pertambangan sangat penting untuk meningkatkan keselamatan kerja dan mengurangi risiko kecelakaan. Berikut adalah beberapa penerapan BBS dalam konteks ini:
Identifikasi Perilaku Berisiko
Melakukan analisis untuk mengidentifikasi perilaku yang berpotensi menyebabkan kecelakaan di lokasi tambang, seperti penggunaan alat pelindung diri yang tidak tepat atau kelalaian dalam prosedur keselamatan.Pengamatan Perilaku
Mengadakan pengamatan rutin terhadap perilaku pekerja di lapangan oleh tim keselamatan atau rekan kerja untuk memastikan bahwa prosedur keselamatan diikuti dengan benar.Umpan Balik dan Pelatihan
Memberikan umpan balik langsung kepada pekerja mengenai perilaku mereka dan menyediakan pelatihan tambahan untuk memperbaiki perilaku yang tidak aman.Intervensi Proaktif
Melakukan intervensi ketika perilaku berisiko terdeteksi, seperti mengubah prosedur kerja atau memperkenalkan alat baru yang lebih aman.Pengakuan dan Penghargaan
Menerapkan sistem penghargaan untuk pekerja yang menunjukkan perilaku aman, seperti memberikan sertifikat atau insentif untuk mendorong budaya keselamatan.Pemberdayaan Pekerja
Melibatkan pekerja dalam program keselamatan dengan memberikan kesempatan untuk berkontribusi dalam pengembangan strategi keselamatan dan pengamatan perilaku.
Setelah memahami konsep Behavior-Based Safety (BBS) di atas, mari kita eksplorasi lebih dalam mengenai tujuan utama dari pendekatan ini. Berikut tujuan utama dari Behavior-Based Safety :
Mengurangi jumlah kecelakaan dan cedera di tempat kerja dengan mengubah perilaku individu.
Mendorong terciptanya budaya keselamatan yang kuat di seluruh organisasi.
Meningkatkan keterlibatan karyawan dalam mempromosikan dan menerapkan praktik keselamatan.
Meningkatkan kesadaran akan resiko serta tanggung jawab individu terhadap keselamatan.
Setelah kita membahas tujuan dari Behavior-Based Safety (BBS), kini saatnya untuk melihat manfaat luar biasa yang dapat kita peroleh dari penerapannya. Manfaat-manfaat ini tidak hanya akan meningkatkan keselamatan, tetapi juga memberikan dampak positif yang luas bagi organisasi dan karyawan. Berikut manfaatnya :
Penurunan tingkat kecelakaan dan cedera.
Peningkatan produktivitas dan efisiensi.
Pengurangan biaya yang terkait dengan kecelakaan dan klaim asuransi.
Peningkatan moral dan motivasi karyawan.
Kasus Implementasi Budaya K3 di Industri Tambang
Sobat Safeclo, dari semua yang telah kita bahas menunjukkan betapa pentingnya Membangun Budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Pertambangan. Dengan adanya budaya K3 dapat mengurangi potensi kecelakaan kerja yang tinggi dan dapat menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat.
Adapun contoh implementasi budaya K3 di industri tambang adalah Program SafeTIN 5R dan Program GESIT pada PT Timah Tbk. Program SafeTINS 5R merupakan upaya membangun kesadaran dan kedisiplinan perilaku bekerja dengan mengedepankan keselamatan kerja melalui implementasi safety dan budaya 5R sebagai upaya pencegahan terjadinya kecelakaan dan meningkatkan produktivitas perusahaan. Program GESIT (Gerakan Sehat Insan Timah) sendiri merupakan inisiatif strategis yang bertujuan untuk mendorong gaya hidup sehat di kalangan seluruh Insan Timah, baik di lingkungan kerja maupun kehidupan sehari-hari. Melalui Program GESIT ini mencakup berbagai kegiatan yang dirancang untuk mengedukasi dan memotivasi karyawan agar lebih peduli terhadap kesehatan fisik dan mental mereka.
REFERENSI
Abdurrahman Mustafa, Lola Malihah, Haya Zabidi, & Mukhlis Kaspul Anwar. (2024). PERAN MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DALAM MENCEGAH KECELAKAAN KERJA. Management Studies and Business Journal, 1(1), 8-17. dari https://journal.ppipbr.com/index.php/productivity/index
Akhmad Yani. (2024). Efektivitas Pelatihan Keselamatan Kerja di Konstruksi Dan Peran Manajemen dalam Meningkatkan Kepatuhan K3. JURNAL ILMIAH EKONOMI MANAJEMEN DAN BISNIS, 5(2), 57-66.
PT Timah Tbk. (2024). PT Timah Tingkatkan Implementasi Budaya K3 untuk Mencegah Kecelakaan Kerja. dari https://timah.com/news/post/pt-timah-tingkatkan-implementasi-budaya-k3-untuk-mencegah-kecelakaan-kerja.html
Stevianingrum, A., & Erwandi, D. (2022). Faktor-Faktor Dominan Budaya Keselamatan Di Sektor Tambang Batubara: Kajian Literatur. PREPOTIF: Jurnal Kesehatan Masyarakat, 6(2), 1018-1026.
Suherry, K., & Susilawati. (2023). Analisis Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Karyawan di Pertambangan. Journal of Health, 1(1), 1–11.
Sundri, M. (2023). Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam. 4(2), 6615683.
Synergy Solusi Group, 2024. Mengenal Behavior Based Safety BBS Pendekatan Proaktif Keselamatan Kerja https://synergysolusi.com/artikel-qhse/mengenal-behavior-based-safety-bbs-pendekatan-proaktif-keselamatan-kerja/
Synergy Solusi Group, 2024. 10 Prinsip Utama Behavior Based Safety Untuk Membangun Budaya Keselamatan https://synergysolusi.com/artikel-qhse/10-prinsip-utama-behavior-based-safety-untuk-membangun-budaya-keselamatan/




